Sabtu, 06 Maret 2021

Lupa Hari

Pagi ini cerah sekali, pagi begitu hangat dan membuat kami bersemangat menyambutnya. Si bugsu sudah minta digorengkan telur, nomer dua sudah membuka jendela dan di sulung sudah siap-siap meminta tugas.

Sebelum drama pagi dimulai, anak-anak berebut dan biasanya ada yang menangis kuminta mereka mandi, setelah kupersiapkan air hangat bagi mereka. Saat mereka mandi saya membuatkan masakan permintaan mereka. Benar saja selepas mereka berganti pakaian mereka sarapan.

Usai sarapan, anak sulung yang kelas 3 meminta pekerjaan kelas onlinenya. Aku minta anak bersiap dan membawa gawai untuk aku kirimkan link dari sekolahannya. Tetapi ternyata tidak ada tugas, karena sekarang memang hari libur ah saya lupa hari nak.Aku kira hari Jumat ternyata hari Sabtu ,karena memang tempat kami 5 hari kerja. Dan lagi-lagi salah hari.

#Maret Challenge#ceritakelaskuhariini#ceritamuriskuhariini#ceritanakkuhariini#

Jumat, 05 Maret 2021

Dilema Vaksin

Jadwal vaksinasi untuk guru di kecamatan kami sudah di mulai. Gempita penyambutan adanya vaksin menjadi perbincangan hangat. Vaksin yang diharapkan mampu mencegah terjangkitnya virus corona ini banyak disambut baik oleh masyarakat luas dan tentu saja ada pro dan kantra di lapangan.

Gejolak hati bagi para penerima vaksin adalah ketika ia harus berdamao dengan hati, berdamai dengan tubuh dan pikiran mereka bahwa vaksin ini dibutuhkan bukan berbahaya. Terus terang saya bagian dari orang yang merasa takut, bukan takut isi vaksin tersebut tetapi pada saat proses penyuntikan vaksin. Hingga saya berfikir bisakah vaksin ini saya teguk? Konyol tapi ini adalah angan saya dan satu lagi kekonyolan ini apakah vaksin bisa buat untuk gosok saja .

Ketakutan yang menjadi, mampu membuat saya berada dalam dilema. Saat jarum suntik sudah di isi vaksin, tubuh saya gigil. Jarum sudah di depan mata , perawat sudah memberi komando agar saya rileks, tidak boleh menatap. Teman- teman seperti mengejek dan mengabadikan momen ketakutan saya  tapi kemudian saya berlari dikerjar teman- teman .Gubrakk...semua hitam gelap dan saya terjatuh. Aduh! ternyata saya jatuh dari tempat tidur saya dan tadi hanya mimpi. Fiks saya takut disuntik.

Kamis, 04 Maret 2021

Rina Jujur Apa Adanya

Pagi ini kegiatan pembelajaran saya mulai pukul tujuh, materi yang akan saya sampaikan adalah latihan soal. 
Pembelajaran jarak jauh membuat kami tidak saling jumpa, saya juga tidak menginginkan kondisi seperti ini sama seperti kita semua.

Sapaan pagi melalui pesan suara saya kirimkan, menyapa mereka dengan meminta maaf dan memberikan semangat.'Asaalamualikum wr wb , anak-anak Ibu harap ananda dalam keadaan sehat dan tetap semangat belajar". Maaf ya kita sekarang masih belum bisa berjumpa dan hari ini ibu akan berikan latihan soal, ananda mengerjakan sengan seksama, terimakasih"."Jangan lupa berdoa dan jaga kesehatan".Wassalamuakikum wrw wb.Kemudian saya tambahkan pesan tertulis agar anak-nak mengirimkan semangatnya melalui pesan suara.  

Semua berkirim pesan dengan merdunya.Salah satu siswa saya Rina mengirimkan kan pesan dengan lucunya. Rina berkata " Semangat Bu, tapi saya lebih semangat kalau belajar bersama bu guru, bu guru apa kabar masih galak tidak ?" Ah Rina kamu terlalu apa adanya. 
# Maret Challenge#ceritakelaskuhariini#ceritamuriskuhariini#ceritanakkuhariini#

Rabu, 03 Maret 2021

Entah

Seperti menyusuri sebuah labirin tanpa 
gelap, pengap, sendiri, dan sepi
aku tau ada cahaya yang memancar dari labirin yang kan ku lewati
dan aku yakin ada pintu keluar hingga aku bisa bernapas lega
tapi entah aku enggan segera kesana
aku menikmati segala rasa tak nyaman ini
nyeri, berdiam diri tak henti aku memaki diri
enggan aku pergi dari labirin penuh kontradiksi
ah entah mengapa masih saja kakiku tegak disini
menguasai diri menghilangkan emosi
labirin pengap terus aku telusuri
semakin jauh kian lusuh
terhenti dalam labirin penuh debu
sesakkan dadaku
hempaskan segala risauku
lalu angin sepoi menyapu wajahku
tapi aku masih enggan menuju asalmu
entahlah aku pasrah
nanti, esok atau lusa pasti aku akan sampai disana
di sinar cahaya, di sepoi angin surga
Entah 

Selasa, 02 Maret 2021

Mencuri Hati

Saat sampai di rumah Rima, aku melihat Tobi berlari kencang tanpa menggunakan baju. Ia juga hampir menabrak aku dan saat aku sebut namanyapun tidak menggubrisku. Dari dalam rumahpun Rima juga tergopoh-gopoh mengejarnya.Aku belum paham dengan kejadian ini.

Sesampai di dalam rumah aku melihat Lita anak Rima menangis sejadi-jadinya. Dia bergulung-gulung dilantai tanpa menghiraukan kedatanganku. Kemudian aku angkat anak kecil itu dan mencoba untuk menenangkannya. Sambil aku bawa keluar dan memberikan iming-iming es krim yang memang aku bawakan untuknya. Alhamdulillah tangisnya reda.

Rima masuk dalam rumah sambil menggerutu. Ia juga membawa Tobi yang hanya cengar-cengir dan mengeong. Dijelaskan Rima ternyata Lita menangis karena makan siang Lita yang disajikan di meja makan dengan lauk kesukaan Lita hati ayam dibawa lari oleh Tobi, kucing peliharaan Lita. Ah Tobi sudah mencuri hati .


Senin, 01 Maret 2021

Kinanti dan Sore yang Mencekam

Merinding tengkukku, mendengar suara sapa orang tua menyebut namaku "Kinanti" ia memanggilku. Di dalam rumah Joglo besar ini aku sendiri, saat mati lampu ditambah gerimis sore ini yang semakin  deras.Bulu kudukku merinding, sekujur tubuh ini mulai dingin.

Angin sepoi tiba-tiba seperti menyapaku, derit pintu belakang juga berbunyi. Aku semakin takut, mencekam suasana habis magrib. Bau rebusan ketela  semakin menusuk hidungku. "Kinantiiiii" Kinanti.... makin terdengar jelas suara orang tua memanggilku.Ingin rasanya aku menjawab tapi sungguh aku takut.

Krompyang suara barang jatuh di ruang depan, entah apa yang membuatku berani melangkah mencari sumber bunyi itu. Aku terkejut melihat sesuatu di luar, nenek bersanggul, badan agak membungkuk dan membawa tongkat berada di depan pintu. Lampupun menyala ah ternyata Mbah Darmo yang mencari kucing kesayangannya dan ia membawakanku satu rantang ketela rebus dan meletakannya dilantai hingga suara krompyang terdengar nyata.

Jahatnya Permana

Permana menatap Jelita dengan tajam, seperti menguliti semua gerakan dan bahasa tubuh Jelita. Jelita merasa seperti tertawan dilihat Permana seperti itu. Batin Jelita menelisik apakah ada sesuatu yang salah pada sikapnya.Sembari mengingat- ingat hal apa yang sudah dilakukannya.

Permana mengagetkan lamunan Jelita. Ia berkata," Kamu sudah melakukan apa Jelita?" Perempuan cantik yang memang pantas dinamai Jelita ini kacau, kaget,  dan tergagap saat ia diberi pertanyaan suaminya. "Aku tidak melakukan apa-apa". Kita dari tadi bersama melalui perjalanan Solo-Yogyakarta. "Aku juga terus duduk disampingmu, ada apa denganku?" 

Permana kemudian menepikan mobil yang mereka kendarai. Permana sengaja berhenti di dekat kios penjual bunga. Kemudian ia menatap tajam Jelita dan mengatakan sesuatu pada isterinya tersebut. Wajah Jelita pias, melihat tatapan Permana tajam apalagi sampai berhenti. Permana mendekat pada wajah Jelita menatapnya tajam kemudian ia berkata " kamu sudah membuat kesalahan besar dalam hidupmu, kamu teramat cantik untukku sehingga aku tak bisa untuk tidak mengatakan aku mencintaimu Jelitaku". Dada Jelita berdebar hambur peluk ke pelukan Permana dan ia berkata " kamu Jahat Permana sambil mencubitnya mesra.Happy anniversary sayang sambil memberikan kado untuk Jelita.